Kenali Gejala Anemia pada Ibu Hamil

  • April 28, 2022

Anemia bisa terjadi pada siapa pun termasuk ibu hamil. Ketika kamu mengalami anemia, darah tidak memiliki cukup sel darah merah sehat untuk membawa oksigen kepada jaringanmu dan bayimu. Berikut merupakan penjelasan lengkap mengenai anemia pada ibu hamil, mulai dari jenis, faktor risiko, hingga gejalanya.

Jenis-jenis Anemia Selama Kehamilan

Setidaknya, ada 3 jenis anemia yang paling sering terjadi pada ibu hamil, yaitu anemia defisiensi zat besi, anemia defisiensi folat, dan anemia defisiensi B12.

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi

Sesuai namanya, terjadi ketika tubuhmu kekurangan zat besi untuk memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup. Itu merupakan protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Jenis ini merupakan yang paling umum dari anemia selama kehamilan.

  1. Anemia Defisiensi Folat

Folat merupakan vitamin yang ditemukan secara alami dalam makanan tertentu, utamanya pada sayuran hijau. Folat dibutuhkan oleh tubuh untuk memproduksi sel-sel baru, termasuk sel darah merah yang sehat.

Selama kehamilan, kamu memerlukan tambahan folat. Tapi terkadang, kamu tidak mendapatkan cukup dari asupan makananmu. Ketika itu terjadi, tubuh tidak bisa membuat cukup sel darah merah untuk mengangkut oksigen. Kekurangan folat juga bisa berkontribusi pada jenis cacat lahir seperti berat badan lahir rendah.

  1. Anemia Defisiensi B12

B12 juga diperlukan untuk membentuk sel darah merah sehat baru. Wanita yang tidak makan daging, unggas, produk susu, serta telur mempunyai risiko lebih besar mengalami kekurangan vitamin B12.

Faktor Risiko Anemia pada Kehamilan

Kamu pasti ingin tahu apakah ada faktor khusus yang memicu timbulnya anemia? Jadi, anemia pada ibu hamil bisa menyerang ibu hamil mana pun, namun risikonya akan lebih tinggi jika kamu:

  • Hamil anak kembar
  • Muntah banyak karena mual atau morning sickness
  • Pernah anemia sebelum hamil
  • Mengalami hamil dengan jarak waktu yang berdekatan

Gejala Anemia Saat Hamil

Pada tahap awal anemia, kamu mungkin tidak akan merasakan gejala yang jelas. Jadi, kamu harus rutin melakukan tes darah untuk mendeteksi anemia. Berikut beberapa gejala yang sering timbul ketika terserang anemia:

  • Kuku, bibir, dan kulit pucat
  • Merasa letih padahal tidak bekerja terlalu berat
  • Pusing dan sesak nafas
  • Detak jantung lebih cepat
  • Hilangnya konsentrasi

Risiko Anemia dalam Kehamilan

Ketika anemia saat kehamilan tidak segera ditangani, maka itu bisa membuat kesehatan bayi ikut memburuk Anemia bisa meningkatkan risiko bayi prematur, depresi pasca persalinan, bayi dengan anemia, hingga keterlambatan perkembangan pada anak.

Tes untuk Anemia

Tes anemia bisa dilakukan oleh dokter. Ada 2 jenis tes yang biasanya dilakukan untuk mengetahui anemia, yaitu tes hemoglobin dan tes hematokrit. Tes hemoglobin ini mengukur jumlah hemoglobin yang membawa O2 dari paru-paru menuju jaringan dalam tubuh. Sedangkan tes hematokrit adalah tes yang mengukur persentase sel darah merah dalam sampel darah. Jika hasilnya di bawah batas normal, maka kamu terkena anemia.

Pengobatan Anemia

Ketika kamu anemia, jangan terlalu panik karena ini bisa diobati. Pengobatannya yaitu kamu harus lebih banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan zat besi dan asam folat. Dokter juga akan menyarankan kamu mengkonsumsi suplemen B12 dan memakan daging, telur, juga produk susu.

Itulah penjelasan lengkap mengenai anemia pada ibu hamil. Jika kamu mengalami anemia, maka harus segera diobati agar tidak berdampak buruk pada kehamilan dan calon bayimu. Ingat juga untuk lakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi anemia sejak dini!

Kenali Posisi Tidur yang Baik untuk Ibu Hamil

  • April 28, 2022

Tidur adalah suatu kebutuhan bagi setiap manusia. Ketika terlelap, kamu mungkin tidak akan sadar telah merubah posisi tidurmu, padahal posisi tidur sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur, apalagi jika kamu sedang hamil. Lantas, seperti apakah posisi tidur yang baik untuk ibu hamil?

Mengapa Tidur Sangat Penting Selama Kehamilan?

Tidur merupakan waktu ketika tubuhmu mengatur ulang serta memperbaiki dirinya sendiri. Tidur juga menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap sehat dan mendukung kehamilanmu. Kegiatan ini juga bisa mengontrol bagaimana tubuhmuberekasi terhadap insulin.

Posisi Tidur Saat Hamil

Para ahli mengatakan bahwa posisi tidur terbaik saat hamil adalahdi sisi kirimu, namun sisi kanan juga diperbolehkan. Yang jelas, saat melewati trimester pertama, kamu tidak mungkin dan tidak boleh berbaring tengkurap.

Banyak ahli juga menyarankan agar kamu menghindari berbaring terlentang sepanjang malam, tapi itu tidak akan apa-apa jika kamu berguling di malam hari dan bangun terlentang. Namun, beberapa ahli juga berpendapat bahwa ibu hamil dapat tidur dalam posisi apa pun selama itu nyaman bagi mereka.

Bagaimana Posisi Tidur Terbaik Saat Hamil?

Banyak posisi tidur yang baik untuk ibu hamil. Kali ini, kita akan membahas semua posisi itu, mulai dari tengkurap, telentang, hingga tidur menyamping ke arah kiri atau ke arah kanan.

  1. Tidur Tengkurap

Mungkin kamu membayangkan, apakah tidur tengkurap akan membuat ibu hamil merasa sesak? Jadi, sebenarnya tidur tengkurap tidak apa-apa digunakan oleh ibu hamil sampai janin yang ada di perut membuatnya tidak nyaman atau tidak memungkinkan. Pada saat itulah kamu harus berganti ke posisi tidur yang lain.

  1. Tidur Telentang

Pada trimester pertama, ibu hamil masih diperbolehkan tidur telentang. Namun, beberapa ahli merekomendasikan untuk menghindari tidur telentang selama trimester kedua maupun ketiga.

Hal tersebut karena posisi telentang mengistirahatkan seluruh berat rahim yang sedang tumbuh dan bayi di punggungmu, usus, serta vena cavamu, padahal vena utama yang bertugas membawa darah kembali ke jantung dari tubuh bagian bawahmu.

Tekanan yang ada juga bisa memperburuk sakit punggung, wasir, serta membuat pencernaan jadi kurang efisien, mengganggu sirkulasi, serta menyebabkan hipotensi  yang membuat kepalamu pusing.

  1. Tidur Menyamping

Selama trimester kedua dan ketiga, tidur menyamping di kedua sisi diperbolehkan, namun baiknya menghadap kiri karena ideal untukmu dan calon bayi.

Posisi tersebut memungkinkan aliran darah serta nutrisi mengalir ke plasenta, juga bisa meningkatkan fungsi ginjal, Meningkatnya fungsi ginjal akan membuat pembuangan limbah lancar dan bisa mengurangi pembengkakan pada kaki.

Tips Posisi Tidur Ibu Hamil yang Nyaman

Normal bagi setiap ibu hamil ketika merasa tidak nyaman dalam mengganti posisi tidur karena itu merupakan hal yang baru bagi mereka. Apalagi, perut mereka akan semakin berat dan cembung. Berikut beberapa cara agar ibu hamil nyaman saat mencoba posisi tidur baru.

  • Gunakan banyak bantal: Cobalah menyilangkan satu kaki di atas kaki yang lainnya dan letakkan satu bantal di bawah silangan kaki tersebut. Tambah juga bantal untuk menyangga belakang punggungmu.
  • Dapatkan bantal khusus: Kamu juga bisa menggunakan bantal khusus kehamilan setinggi 5 kaki.
  • Menopang diri sendiri: Apabila bantal tidak cukup membantu, cobalah tidur semi tegak di kursi malas alih-alih di tempat tidur.

Setelah membaca uraian di atas, kamu pasti tahu bahwa posisi tidur yang baik untuk ibu hamil adalah yang membuatnya dan janinnya nyaman. Rekomendasi posisi yang paling nyaman adalah menyamping.

Daftar Makanan yang Tidak Boleh Dimakan Ibu Hamil

  • April 26, 2022

Selama kehamilan, ibu hamil harus menjaga asupan makanannya. Ada beberapa jenis makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi, namun ada juga yang harus dihindari. Berikut adalah daftar makanan yang tidak boleh dimakan ibu hamil!

  1. Ikan Merkuri Tinggi

Merkuri merupakan unsur yang sangat beracun dan tidak diketahui tingkat aman untuk konsumsi. Ikan dengan merkuri tinggi biasa ditemukan di perairan yang tercemat. Jika mengkonsumsi ikan merkuri tinggi, maka bisa menyebabkan masalah pada sistem saraf, kekebalan, dan ginjalmu.

Makanan ini juga bisa menyebabkan masalah perkembangan yang serius pada anak-anak. Karena ditermukan di air tercemar, ikan laut berukuran besar bisa mengakumulasi merkuri dalam jumlah tinggi. Contoh ikan merkuri tinggi adalah hiu, makarel dan tuna.

Perlu diingat juga bahwa tidak semua ikan mengandung merkuri tinggi. Mengkonsumsi ikan rendah merkuri malah dianjurkan saat kehamilan. Contoh ikan merkuri rendah adalah teri, salmon, nila, dan ikan air tawar.

  1. Ikan Mentah atau Setengah Matang

Makanan pantangan satu ini pasti akan sulit bagi seseorang yang gemar mengkonsumsi sushi. Ikan mentah, terutama kerang-kerangan bisa menyebabkan beberapa infeksi, seperti infeksi virus, bakteri atau parasit seperti norovirus, vibrio, salmonella, dan listeria.

Beberapa infeksi tersebut mungkin hanya mempengaruhimu, seperti menyebabkan kelemasan dan dehidrasi. Namun, beberapa infeksi bisa ditularkan ke calon bayimu dengan konsekuensi serius 

Wanita hamil sangat rentan terhadap infeksi listeria. Faktanya, wanita hamil bisa sepuluh kali lebih mungkin untuk terinfeksi listeria daripada populasi umum. Bahkan, wanita hamil hispanik 24x lebih berisiko.

Bakteri tersebut bisa ditemukan di tanah, air atau tanaman yang terkontaminasi. Ikan mentah bisa terinfeksi selama pemrosesan, termasuk pengasapan serta pengeringan. Bakteri listeria bisa ditularkan ke bayimu melalui plasenta, hal tersebut bisa menyebabkan kelahiran prematur, keguguran, lahir mati, dan masalah kesehatan serius lainnya.

  1. Daging Mentah atau Setengah Matang

Makanan yang tidak boleh dimakan ibu hamil selanjutnya adalah daging mentah atau setengah matang. Permasalahan yang ditimbulkan mirip dengan ikan mentah tadi, yaitu meningkatkan risiko infeksi akibat bakteri atau parasit.

Bakteri bisa mengancam janinmu, mungkin menyebabkan lahir mati atau penyakit neurologis yang parah, termasuk cacat intelektual, kebutaan, dan epilepsi. Sebagian besar bakteri bisa ditemukan di permukaan potongan daging utuh, bakteri lain mungkin berlama-lama di dalam serat otot.

Daging potong, termasuk patty daging burger, daging cincang, babi dan unggas tidak boleh dikonsumsi mentah ataupun setengah matang. Jadi, simpanlah burger di atas panggangan dengan baik. Ibu hamil sebaiknya tidak mengkonsumsi daging olahan kecuali telah dipanaskan kembali sampai mengepul panas.

  1. Kafein

Orang hamil disarankan untuk membatasi asupan kafein hingga kurang dari dua ratus mg per hari. Penyerapan kafein begitu cepat dan mudah memasuki plasenta. Namun, bayi dan plasentanya tidak mempunyai enzim utama yang dibutuhkan untuk metabolisme kafein, sehingga kadar kafein bisa meningkat terus.

Penelitian membuktikan bahwa asupan kafein yang tinggi selama kehamilan bisa menghambat pertumbuhan janin serta meningkatkan risiko berat badan lahir rendah saat melahirkan. Berat badan lahir rendah didefinisikan setara dengan kurang dari 2,5 kg, sehingga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian bayi atau risiko penyakit kronis di masa dewasanya.

Itulah 4 daftar makanan yang tidak boleh dimakan ibu hamil. Jika kamu sedang hamil, kamu harus menghindari daftar makanan tersebut agar kesehatan kamu dan calon bayi terjaga hingga bisa tumbuh dengan baik.

memilih pembalut malam yang tepat untuk wanita

Ukuran dan Tips Memilih Pembalut Malam yang Tepat

  • April 20, 2022

Darah menstruasi yang keluar banyak sering membuat sebagian perempuan menjadi merasa tidak nyaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk saat tidur. Oleh karena itu, ada yang namanya pembalut malam yang bisa digunakan.

Tak jarang, beberapa perempuan akan mengalami kesulitan dan gangguan tidur saat sedang menstruasi. Untuk mengatasi masalah ini, muncul sebuah inovasi, yaitu adanya pembalut yang khusus dibuat untuk digunakan saat malam hari.

Hadirnya pembalut malam bisa mengatasi permasalahan pembalut bocor saat tidur. Pembalut malam hari memang dirancang khusus untuk membantu perempuan tetap nyaman saat tidur ketika masa menstruasi. 

Nah, untuk mengetahui pembalut malam yang seperti apa yang cocok untuk kamu, kamu bisa membaca ulasan di bawah ini.

Ukuran Pembalut Malam Hari

Pembalut untuk malam hari dirancang dan dibuat dengan ukuran yang lebih panjang dibanding pembalut biasanya. Variasi ukuran pembalut untuk malam mulai dari 28 cm, 30 cm, 35 cm, sampai dengan 41 cm. Kamu bisa memilih ingin menggunakan yang mana tergantung kenyamanan dan kebutuhan kamu.

Ukuran yang sangat panjang tersebut memang dirancang agar bisa melindungi para perempuan dari kebocoran saat malam hari secara maksimal. Jadi, semakin panjang ukuran pembalut, semakin banyak juga cairan yang akan diserap oleh pembalut tersebut.

Pembalut malam sendiri biasanya memiliki bagian belakang yang lebih lebar dibandingkan dengan pembalut pada umumnya. Daya serapnya juga berpusat di tengah dan belakang karena darah menstruasi bisa mengalir sampai belakang saat tidur.

Tips Memilih Pembalut Malam yang Tepat

Setelah kamu mengetahui ukuran pembalut malam, kini kamu akan mendapatkan informasi mengenai tips memilih pembalut malam yang tepat. Apa saja itu? Berikut ulasannya buat kamu.

  1. Punya Daya Serap yang Baik

Sama halnya dengan pembalut pada umumnya, pembalut malam hari juga perlu memiliki daya serap tinggi. Dengan memilih pembalut untuk malam hari dengan daya serap yang baik, kamu tidak akan mengalami kebocoran saat tidur dan tidurmu lebih berkualitas.

Salah satu trik yang dapat kamu lakukan untuk mengetahui apakah pembalut memiliki daya serap yang baik atau tidak adalah dengan melihat warna darah pada permukaan pembalut yang digunakan.

Jika warna darahnya semakin cerah atau segar, itu tandanya darah menstruasi tersebut dekat dengan permukaan pembalut alias belum terserap dengan baik. Akan tetapi, jika darah menstruasi terlihat samar atau pudar, itu artinya darah menstruasi terserap dan terkunci dengan baik di bawah permukaan pembalut, sehingga risiko kebocoran lebih rendah.

  1. Perhatikan Panjang dari Pembalut Malam

Ukuran pembalut malam memang dirancang lebih panjang daripada pembalut pada umumnya. Oleh karena itu, jika ingin membeli pembalut untuk malam hari, perhatikan baik-baik berapa ukuran panjangnya.

Semakin panjang ukuran pembalut, semakin besar pula jumlah cairan yang dapat terserap. Namun, sesuaikan juga ukuran panjang pembalut dengan kenyamananmu ya, sebab beberapa perempuan tidak terlalu suka pembalut malam yang terlalu panjang.

  1. Sesuaikan dengan Ukuran Celana Dalam

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, pemilihan panjang pembalut harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan penggunanya. Cara paling mudah adalah dengan menyesuaikan panjang pembalut dan ukuran celana dalam kamu.

Penyesuaian ukuran pembalut dan celana dalam yang digunakan juga bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah terjadinya kebocoran. Hal itu dikarenakan jika panjang pembalut sesuai dengan celana dalam, maka potensi bergesernya pembalut yang merekat di celana bisa berkurang.

  1. Perhatikan Bahan yang Digunakan

Kulit setiap orang memang berbeda-beda, termasuk sensitivitasnya. Sebagian perempuan akan mengalami iritasi jika menggunakan pembalut yang terbuat dari bahan berbahaya, seperti klorin, dioksin, dan hidrogen peroksida. Oleh karena itu, pastikan pembalut malam hari yang kamu gunakan tidak mengandung ketiga bahan tersebut, ya!

Itu dia penjelasan singkat mengenai pembalut malam yang bisa menjadi solusi mencegah kebocoran pembalut di malam hari saat tidur. Ada juga tips-tips yang dapat dilakukan dalam memilih pembalut untuk malam hari. Semoga bermanfaat!